Putusan

Fatwa 01 2003 angkat tangan dalam berdoa

Tahun 2003Folder: Fatwa 2003#auto-import

ANGKAT TANGAN DALAM BERDOA
Pertanyaan Dari:
Saudara Abd Syakur, Metro, Lampung Tengah.
Pertanyaan :
Beberapa waktu lalu kami sempat berdialog dengan teman-teman di suatu
masjid, mengenai mengangkat tangan ketika berdo’a. Sebagian teman
berpendapat disunnahkan mengangkat tangan, sedang teman lainnya berpendapat
tidak disunnahkan. Semuanya menyodorkan hadits, baik yang berpendapat sunnah
mengangkat tangan, maupun yang berpendapat tidak sunnah mengangkat tangan.
Yang berpendapat tidak sunnah mengangkat tangan karena ada hadits yang
mengatakan: illa fil istisqa’ (kecuali ketika istisqa’ saja). Karena ada istitsna’
(perkecualian) itulah sebagian teman kami berpendapat tidak disunnahkan
mengangkat tangan ketika berdo’a. Maka dengan ini kami mohon kepada dewan
fatwa untuk menjelaskan, apa yang dimaksudkan dengan istitsna’ (perkecualian)
tersebut? Karena yang berpendapat tidak sunnah mengangkat tangan, mengatakan
bahwa haditsnya hanya dua di al-Bukhari, menganggap lemah. Maka kami mohon
dikutipkan beberapa hadits, kalau perlu sebanyak mungkin yang bapak temukan,
agar lebih jelas, lengkap dengan sanadnya.
Jawaban :
Untuk memenuhi permintaan Saudara memang memerlukan waktu banyak
sebab harus membaca beberapa kitab hadits, terutama syarahnya. Sebab untuk
memahami hadits tidak cukup hanya dari segi sanadnya saja, atau hanya dari segi
nahwunya, atau hanya dari segi matannya saja, melainkan harus melihat juga dari
berbagai segi, termasuk segi balaghahnya.
Baiklah untuk menyingkat jawaban, kami kutip lebih dahulu hadits-hadits
yang dapat kami temukan menurut kemampuan kami, dan insya Allah kami
jelaskan secara singkat:
I Hadits-hadits yang mengungkapkan bahwa Nabi saw mengangkat tangan
ketika berdo’a, antara lain ialah:
١-ﹸ ﺑﺜﹾﻤﺎﻥﺛﹶﻨﺎ ﻋﺣﺪﻫﺮِﻱ ﻋ ﻦِ ﺍﻟﺰﺲﻮﻧﺛﹶﻨﺎ ﻳ ﻳﺤﻴﻰ ﺣﺪﹸ ﺑﻦﺔﹶﻠﹾﺤﺛﹶﻨﺎ ﻃ ﺃﹶﺑِﻲ ﺷﻴﺒﺔﹶ ﺣﺪِ ﻦ
ﺑِﺴﺒ ﻊ ﻧﻴﺎ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﻳﺮﻣِﻲ ﺍﻟﹾﺠﻤﺮﺓﹶ ﺍﻟﺪﻪﹶﻧﻤﺎ ﺃ ﺭﺿِﻲ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻨﻬﺮﻤﻋﻦ ﺳﺎ ﻟِﻢ ٍ ﻋ ﻦ ِ ﺍﺑ ﻦ ِ ﻋ
 ﻳﺘﻘﹶﺪﹸﻢﱢ ﺣﺼﺎ ﺓ ٍ ﺛﹸﻞ ﻋﻠﹶﻰ ﺃﹶﺛﹶ ﺮ ِ ﻛﺮﹶﺒﻜِ ﺣﺼﻴﺎﺕ ٍ ﻳ ﻣﺴﺘﻘﹾ ﺒِﻞﹶ ﺍﻟﹾ ﻘِﺒﻠﹶ ﺔﹸﻮﻡﹶ ﻓﹶﻴﻘﺴ ﻬِﻞﻰ ﻳ ﺣﺘﻡ
ﻮ ﻭ ﻃﹶ ﻮِﻳﻼﹰ ﻭﻳﺪﻋﹸﻮﻡﻓﹶﻴﻘِ ﻳﺪﻳﻪﹶﻊﺮﻓﻳِﻞﹸﻤﺎ ﻝِ ﻓﹶﻴﺴﺘ ﻬﹸ ﺫﹶﺍﺕ ﺍﻟﺸﺬﺄﹾﺧ ﻳﹸﻢﺳﻄﹶﻰ ﺛ ﻳﺮﻣِﻲ ﺍﻟﹾﻮﹸﻢﺛ
ﻮ ﻭ ﻃﹶﻮِﻳﻼﹰ ﻭﻳﺪﻋﹸﻮﻡ ﻣﺴﺘﻘﹾﺒِﻞﹶ ﺍﻟﹾ ﻘِﺒﻠﹶ ﺔ ِ ﻓﹶﻴﻘﹸﻮﻡﻭﻳﻘ ﻳﺪﹶﻊﺮﻓِﻳﻳ ﻪ ﻳﺮﻣِﻲﹸﻢ ﻃﹶﻮِﻳﻼﹰ ﺛﹸﻮﻡﻭﻳﻘ


ﹸ ﻫﻜﹶﺬﹶﺍﹸﻮﻝِﻑ ﻓﹶﻴﻘ ﻳﻨﺼ ﺮﹸﻢ ﻋِﻨﺪﻫﺎ ﺛِﻒ ﻘﺟﻤﺮﺓﹶ ﺫﹶﺍ ﺕ ِ ﺍﻟﹾﻌﻘﹶﺒ ﺔ ِ ﻣِﻦ ﺑﻄﹾ ﻦ ِ ﺍﻟﹾﻮﺍﺩِﻱ ﻭﻻﹶ ﻳ
ﹸﻪﻠﻔﹾﻌﱠﻰ ﺍ ﷲُ ﻋﻠﹶﻴﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻳ ﺻﻠﺒِﻲ ﺍﻟﻨﹶﻳﺖﺃﺭ)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍحلﺞ، ﺝ:١، ﺹ:١٩٨(

  1. “Diceritakan kepada kami oleh ‘Utsman bin Syaibah, diceritakan
    kepada kami oleh Thalhah bin Yahya, diceritakan kepada kami oleh Yunus,
    dari az-Zuhriy, dari Salim, dari Ibni ‘Umar ra, bahwa dia (Ibni ‘Umar)
    melempar jamrah yang dekat (pertama) dengan tujuh kerikil sambil bertakbir
    pada akhir setiap lemparan kerikil, lalu maju hingga pada tempat yang rata
    dan berdiri menghadap qiblat dengan berdiri lama dan berdo’a dengan
    mengangkat kedua tangannya. Lalu melempar jamrah wustha (kedua), lalu
    mengambil arah sebelah kiri dan menginjak tanah yang datar dan berdiri
    menghadap qiblat dengan lama berdiri, dan berdo’a dengan mengangkat
    kedua tangannya dan berdiri lama, lalu melempar jamrah ‘aqabah (ketiga)
    dari arah lembah dan tidak berhenti di situ, kemudian meninggalkan tempat
    itu dan berkata: ‘Demikianlah saya melihat Nabi saw mengerjakannya’.”
    (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy, Kitab al-Hajj, bab mengangkat kedua
    tangan, I:198).
    ٢-ﺲﻮﻧﻠﹶﻴﻤﺎﻥﹶ ﻋﻦ ﻳﺛﹶﻨِﻲ ﺃﹶﺧِﻲ ﻋﻦ ﺳ ﻋﺒ ﺪِ ﺍ ﷲِ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺣﺪﹸ ﺑﻦﺎﻋِﻴﻞﺛﹶﻨﺎ ﺇِﺳﻤﺣﺪﺑﻦ ﻳﺰِﻳﺪ
    ﻤﺎ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺭﺿِﻲ ﺍ ﷲُ ﻋﻨﻬﺮﻤﱠ ﻋﺒﺪ ﺍ ﷲِ ﺑﻦ ﻋﹶﻥﻋ ﻦِ ﺍﺑ ﻦِ ﺷِﻬﺎ ﺏٍ ﻋﻦ ﺳﺎ ﻟِﻢِ ﺑ ﻦِ ﻋﺒ ﺪِ ﺍ ﷲِ ﺃ
    ﹸِﻞﺴ ﻬﹶﻴﻡ ﻓ ﻳﺘﻘﹶﺪﹸﻢﱢ ﺣﺼﺎﺓ ٍ ﺛﹸﻞ ﻋﻠﹶﻰ ﺃﹶﺛﹶ ﺮِ ﻛﺮﹶﺒﻜ ﻳﹸﻢﻧﻴﺎ ﺑِﺴﺒ ﻊِ ﺣﺼﻴﺎﺕ ٍ ﺛﻳﺮﻣِﻲ ﺍﻟﹾﺠﻤﺮﺓﹶ ﺍﻟﺪ
    ﹸﻮﻡﻓﹶﻴﻘﻮ ﻭﻣﺴﺘﻘﹾﺒِﻞﹶ ﺍﻟﹾ ﻘِﺒﻠﹶ ﺔ ِ ﻗِﻴﺎﻣﺎ ﻃﹶﻮِﻳﻼﹰ ﻓﹶﻴﺪﻋِ ﻳﺪﻳ ﻪﹶﻊﺮﻓﻳﺳﻄﹶﻰ ﻳﺮﻣِﻲ ﺍﻟﹾﺠﻤﺮﺓﹶ ﺍﻟﹾﻮﹸﻢﺛ
    ﻮ ﻭِﻴﺎﻣﺎ ﻃﹶﻮِﻳﻼﹰ ﻓﹶﻴﺪﻋ ﻣﺴﺘﻘﹾ ﺒِﻞﹶ ﺍﻟﹾ ﻘِﺒﻠﹶ ﺔ ِ ﻗﹸﻮﻡﹸ ﻭﻳﻘِﻞﺴ ﻬﹶﻴﻤﺎ ﻝ ِ ﻓﹸ ﺫﹶﺍﺕ ﺍﻟﺸﺬﺄﹾﺧﹶﻴﻛﹶﺬﹶ ﻟِﻚ ﻓِ
     ﻳﺪﻳﻪﹶﻊﺮﻓﻳ ﻳﺮﻣِﻲﹸﻢﺛﹸﹸﻮﻝ ﻋِﻨﺪﻫﺎ ﻭﻳﻘِﻒ ﻘﺍﻟﹾﺠﻤﺮﺓﹶ ﺫﹶﺍﺕ ﺍﻟﹾﻌﻘﹶﺒﺔ ِ ﻣِﻦ ﺑﻄﹾ ﻦِ ﺍﻟﹾﻮﺍﺩِﻱ ﻭﻻﹶ ﻳ
    ﹸﻞﻔﹾﻌﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻳﻮﻝﹶ ﺍ ﷲ ِ ﺻﻠ ﺭﺳﹶﻳﺖﺃﻫﻜﹶﺬﹶﺍ ﺭ)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍحلﺞ،
    ﺝ:١، ﺹ:١٩٨(
  2. “Diceritakan kepada kami oleh Isma’il bin ‘Abdillah, ia berkata:
    diceritakan kepadaku oleh saudaraku, dari Sulaiman, dari Yunus bin Yazid,
    dari Ibnu Syibah, dari Salim bin ‘Abdillah; bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar ra,
    melempar jamrah yang dekat (pertama) dengan tujuh kerikil sambil bertakbir
    pada akhir setiap lemparan kerikil, lalu maju di tempat yang datar dan berdiri
    lama dengan menghadap ke qiblat, lalu berdo’a dengan mengangkat kedua
    tangannya, lalu melempar jamrah wustha (tengah) sebagaimana (melempar
    jamrah pertama), lalu mengambil arah kiri di tempat yang datar dan berdiri
    lama dengan menghadap qiblat, lalu berdo’a dengan mengangkat kedua
    tangannya, lalu melempar jamrah ‘aqabah (yang terakhir) dari arah lembah
    dan tidak berhenti, dan berkatalah ‘Abdullah Ibnu ‘Umar: ‘Demikianlah saya

melihat Rasulullah mengerjakannya’.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy,
Kitab al-Hajj, bab mengangkat kedua tangan, I:198).
٣- ِﱠﻰ ﺍ ﷲُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪﻮﻝﹶ ﺍ ﷲِ ﺻﻠﱠ ﺭﺳﹶﻥ ﺃﻫﺮِﻱ ﻋ ﻦِ ﺍﻟﺰﺲﻮﻧ ﺃﹶﺧﺒﺮﻧﺎ ﻳﺮﻤ ﻋﹸ ﺑﻦﺜﹾﻤﺎﻥﺛﹶﻨﺎ ﻋﺣﺪ
ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺇِﺫﹶﺍ ﺭﻣﻰ ﺍﻟﹾﺠﺮﹶﺒﻜِﺴﺒ ﻊ ِ ﺣﺼﻴﺎﺕ ٍ ﻳﱠﺘِﻲ ﺗﻠِﻲ ﻣﺴ ﺠِﺪ ﻣِﻨﻰ ﻳﺮ ﻣِﻴﻬﺎ ﺑِ ﻤﺮﺓﹶ ﺍﻟ
ِﻞﹶ ﺍﻟﹾ ﻘِﺒﻠﹶ ﺔﻡ ﺃﹶﻣﺎﻣﻬﺎ ﻓﹶﻮﻗﹶﻒ ﻣﺴﺘﻘﹾ ﺒ ﺗﻘﹶﺪﹸﻢﱠﻤﺎ ﺭﻣﻰ ﺑِﺤﺼﺎﺓ ٍ ﺛﹸﻠﻛِﺭﺍﻓِﻌﺎ ﻳﺪﻳ ﻪﻮ ﻭﻛﹶﺎﻥﹶﻳﺪﻋ
ﱠﺎ ﻧِﻴﺔﹶ ﻓﹶ ﻳﺄﹾﺗِﻲ ﺍﻟﹾﺠﻤﺮﺓﹶ ﺍﻟﺜﹸﻢﹸﻮﻑ ﺛﻗﹸ ﺍﻟﹾﻮﻄِﻴﻞﻳﱠﻤﺎ ﺭﻣﻰﹸﻠ ﻛﺮﹶﺒﻜِ ﻴﺮ ﻣِﻴﻬﺎ ﺑِﺴﺒ ﻊ ِ ﺣﺼﻴﺎ ﺕ ٍ ﻳ
ِﻞﹶ ﺍﻟﹾ ﻘِﺒﻠﹶ ﺔِﻒ ﻣﺴﺘﻘﹾ ﺒﺎ ﻳﻠِﻲ ﺍﻟﹾﻮﺍ ﺩِﻱ ﻓﹶﻴ ﻘ ﻳﻨﺤ ﺪِﺭ ﺫﹶﺍﺕ ﺍﻟﹾﻴﺴﺎﺭ ِ ﻣِﻤﹸﻢﺑِﺤﺼﺎﺓ ٍ ﺛِﺭﺍﻓِﻌﺎ ﻳﺪﻳ ﻪ ِ
ﱠﺘِﻲ ﻋِﻨﺪ ﺍﻟﹾﻌﻘﹶﺒ ﺔ ِ ﻓﹶﻴﺮ ﻣِﻴﻬﺎ ﺑِﺴﺒ ﻊ ﻳﺄﹾﺗِﻲ ﺍﻟﹾﺠﻤﺮﺓﹶ ﺍﻟﹸﻢﻮ ﺛﻳﺪﻋﱢﹸﻞِﻨﺪ ﻛ ﻋﺮﹶﺒﻜﺣﺼﻴﺎ ﺕ ٍ ﻳ
ﹸﺙﺪﺤِﻢ ﺑﻦ ﻋﺒ ﺪِ ﺍ ﷲِ ﻳ ﺳﺎ ﻟ ﻤِﻌﺖ ﺳﻫﺮِﻱ ﻋِﻨﺪﻫﺎ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﺰِﻒ ﻘِﻑ ﻭﻻﹶ ﻳ ﻳﻨﺼ ﺮﹸﻢﺣﺼﺎﺓ ٍ ﺛ
ﹸﻪﻠﻔﹾﻌ ﻳﺮﻤ ﻋﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻭﻛﹶﺎﻥﹶ ﺍﺑﻦ ﺻﻠﺒِﻲﻣِﺜﹾﻞﹶ ﻫﺬﹶﺍ ﻋﻦ ﺃﹶﺑِﻴﻪ ِ ﻋ ﻦ ِ ﺍﻟﻨ)ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍحلﺞ، ﺝ:١، ﺹ:١٩٨(
3. “Diceritakan kepada kami oleh ‘Utsman bin ‘Umar, diceritakan
kepada kami oleh Yunus, dari az-Zuhriy, bahwa Rasulullah saw, apabila
melempar jamrah yang berada di dekat Masjid Mina, beliau melemparnya
dengan tujuh kerikil sambil bertakbir setiap melemparkan satu kerikil, lalu
maju ke depan dan berdiri sambil menghadap qiblat dan berdo’a dengan
mengangkat kedua tangannya, dan beliau berhenti lama, lalu mendatangi
jamrah kedua dan melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir setiap
melemparkan satu kerikil, lalu turun ke arah kiri, di sebelah lembah, dan
berdiri menghadap qiblat serta berdo’a dengan mengangkat kedua tangannya,
lalu mendatangi jamrah ‘aqabah, lalu melemparnya dengan tujuh kerikil
sambil bertakbir setiap melemparkan satu kerikil, lalu pergi dan tidak berhenti
di situ. Az-Zuhriy berkata: ‘Saya mendengar Salim bin ‘Abdillah
menceritakan hadits seperti ini dari ayahnya, dari Nabi saw, dan Ibnu ‘Umar
melakukan (sebagaimana dilakukan Nabi saw)’.” (Diriwayatkan oleh al-
Bukhariy, Kitab al-Hajj, bab mengangkat kedua tangan, I:198).
٤- ﺯﻳ ﺪٍ ﻋﻦ ﻋﺒ ﺪِ ﺍﻟﹾﻌﺰِﻳ ﺰِ ﻋﻦ ﺑﻦﺎﺩﺛﹶﻨﺎ ﺣﻤ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺣﺪﺩﺴﺪﺛﹶﻨﺎ ﻣﺣﺪﺲﻮﻧﺃﹶﻧ ﺲٍ ﻭﻋﻦ ﻳ
 ﺔ ِ ﺇِﺫﹾﻌﻤ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﹾﺠﹸﺐﺨﻄﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻳ ﺻﻠﺒِﻲﻋﻦ ﺛﹶﺎ ﺑِﺖ ٍ ﻋﻦ ﺃﹶﻧ ﺲ ٍ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺑﻴﻨﻤﺎ ﺍﻟﻨ
 ﺍ ﷲَ ﺃﹶﻥﹾ ﻳﺴﻘِﻴﻨﺎﺎﺀ ُ ﻓﹶﺎﺩﻉ ﻭﻫﻠﹶﻚ ﺍﻟﺸﹸﺮﺍﻉﻮﻝﹶ ﺍ ﷲِ ﻫﻠﹶﻚ ﺍﻟﹾﻜﹲ ﻓﹶﻘﹶﺎﻝﹶ ﻳﺎ ﺭﺳﻞﻗﹶﺎﻡ ﺭﺟﻓﹶﻤﺪ
ِﻳﺪﻳ ﻪﻭﺩﻋﺎ)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍجلﻤﻌﺔ، ﺑﺎﺏ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ، ﺝ:١، ﺹ:١٠٩(


  1. “Diceritakan kepada kami oleh Musaddad, ia berkata: diceritakan
    kepada kami oleh Hammad bin Zaid, dari ‘Abdil-‘Aziz, dari Anas, dari
    Yunus, dari Tsabit, dari Anas, dia berkata: Ketika Nabi saw berkhutbah pada
    hari Jum’at, berdirilah seseorang dan berkata: ‘Hai Rasulullah, lembu-lembu
    dan kambing-kambing telah mati, dan telah mati pula biri-biri, maka
    berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan minum kepada kita!’
    Kemudian beliau mengulurkan kedua tangannya dan berdo’a.” (Diriwayatkan
    oleh al-Bukhariy, Kitab al-Jumu’ah, bab raf’u- yadain, I:109).
    ٥-ﻮ ﻋﻤﺮٍﻭ ﻗﹶﺎﻝﹶﺛﹶﻨﺎ ﺃﹶﺑِﻴﺪِ، ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺣﺪﻮ ﺍﻟﹾﻮ ﻟﺛﹶﻨﺎ ﺃﹶﺑﻨ ﺬِﺭ ِ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺣﺪ ﺍﻟﹾﻤ ﺑﻦﺍﻫِﻴﻢﺛﹶﻨﺎ ﺇِﺑﺮﺣﺪ
     ﺑﻦﺛﹶﻨِﻲ ﺇِﺳﺤﺎﻕﺣﺪﺎﺱﻋﺒ ﺪِ ﺍ ﷲِ ﺑ ﻦِ ﺃﹶﺑِﻲ ﻃﹶﻠﹾﺤﺔﹶ ﻋﻦ ﺃﹶﻧ ﺲِ ﺑ ﻦِ ﻣﺎ ﻟِﻚٍ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺃﹶﺻﺎﺑ ﺖِ ﺍﻟﻨ
    ﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﺻﻠﺒِﻲﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻓﹶﺒﻴﻨﻤﺎ ﺍﻟﻨ ﺻﻠﺒِﻲﹲ ﻋﻠﹶﻰ ﻋﻬ ﺪ ِ ﺍﻟﻨﺳﻨﺔ
     ﻓﹶﺔ ِ ﻓﹶﻘﹶﺎﻡ ﺃﹶﻋﺮﺍﺑِﻲﻌﹸﻤ ﻓِﻲ ﻳﻮ ﻡِ ﺍﹾجلﹸﺐﺨﻄﻳﹸﹸ ﻭﺟﺎﻉ ﺍﻟﹾﻌِﻴﺎﻝﻮﻝﹶ ﺍ ﷲِ ﻫﻠﹶﻚ ﺍﻟﹾﻤﺎﻝﻘﹶﺎﻝﹶ ﻳﺎ ﺭﺳ
     ﺍ ﷲَ ﻟﹶﻨﺎﻓﹶﺎﺩﻉ!ِﻓﹶﺮﻓﹶﻊ ﻳﺪﻳ ﻪِﻩ ِ ﻣﺎ ﻭﺿﻌﻬﺎﱠﺬِﻱ ﻧﻔﹾﺴِﻲ ﺑِﻴ ﺪﻤﺎ ﺀِ ﻗﹶﺰﻋﺔﹰ ﻓﹶﻮ ﺍﻟِ ﻭﻣﺎ ﻧﺮﻯ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴ
    ِﻨﺒ ﺮ ﻟﹶﻢ ﻳﻨﺰِﻝﹾ ﻋﻦ ﻣﹸﻢ ﺃﹶﻣﺜﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﹾﺠِﺒﺎﻝ ِ ﺛﺤﺎﺏﻰ ﺛﹶﺎﺭ ﺍﻟﺴﺣﺘﺭ ﺍﻟﹾﻤﻄﹶﺮ ﻳﺘﺤﺎﺩﹶﻳﺖﺃﻰ ﺭﻩ ِ ﺣﺘ
    ﱠﺬِﻱ ﻭﺍﻟﻭﺪ ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻟﹾﻐﻭﺪﱠﻰ ﺍ ﷲُ ﻋﻠﹶﻴﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻓﹶﻤﻄﹶﺮﻧﺎ ﻳﻮﻣﻨﺎ ﺫﹶ ﻟِﻚ ﻭ ﻣِﻦ ﺍﻟﹾﻐِﻪ ِ ﺻﻠﻋﻠﹶﻰ ﻟِﺤﻴ ﺘ
    ﻩﹶﻴﺮ ﺃﹶﻭ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻏ ﺔ ِ ﺍﹾﻷُﺧﺮﻯ ﻭﻗﹶﺎﻡ ﺫﹶ ﻟِﻚ ﺍﹾﻷَﻋﺮﺍﺑِﻲﻌﻤﻰ ﺍﻟﹾﺠِ ﻳﻠِﻴ ﻪ ِ ﺣﺘﻮﻝﹶ ﺍ ﷲﻓﹶﻘﹶﺎﻝﹶ ﻳﺎ ﺭﺳ
     ﺍ ﷲَ ﻟﹶﻨﺎﹸ ﻓﹶﺎﺩﻉ ﺍﻟﹾﺒِﻨﺎﺀ ُ ﻭﻏﹶﺮﻕ ﺍﻟﹾﻤﺎﻝﻬ ﺪِﻡﺗِﻓﹶﺮﻓﹶﻊ ﻳﺪﻳﻪ ﺣﻮﺍﻟﹶﻴﻨﺎ ﻭﻻﹶ ﻋﻠﹶﻴﻨﺎ ﻓﹶﻤﺎﻢﱠﻬﻓﹶﻘﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﻠ
    ِﺜﹾﻞﹶ ﺍﹸ ﻣﱠ ﺍﻧﻔﹶﺮﺟﺖ ﻭﺻﺎﺭ ﺕ ِ ﺍﻟﹾﻤﺪِﻳﻨﺔﺤﺎ ﺏ ِ ﺇِﻻِﻦ ﺍﻟﺴ ﺑِﻴ ﺪِﻩ ِ ﺇِﻟﹶﻰ ﻧﺎ ﺣِﻴ ﺔ ٍ ﻣ ﺸِريِ ﻳِﻟﹾﺠﻮﺑ ﺔ
    ﻮﺩﺙﹶ ﺑِﺎﻟﹾﺠﱠ ﺣﺪ ﻣِﻦ ﻧﺎ ﺣِﻴ ﺔ ٍ ﺇِﻻﻭﺳﺎﻝﹶ ﺍﻟﹾﻮﺍﺩِﻱ ﻗﹶﻨﺎﺓﹰ ﺷﻬﺮﺍ ﻭﻟﹶﻢ ﻳ ﺠِﺊﹾ ﺃﹶﺣﺪ)ﺭﻭﺍﻩ
    ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍجلﻤﻌﺔ، ﺑﺎﺏ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ، ﺝ:١، ﺹ:١٠٩(
  2. “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim ibnul-Munzir, ia berkata:
    diceritakan kepada kami oleh Abul-Walid, ia berkata: diceritakan kepada
    kami oleh Abu ‘Umar, dan ia berkata: diceritakan kepadaku oleh Ishaq bin
    ‘Abdillah bin Abi Thalhah, dari Anas bin Malik, ia berkata: Telah menimpa
    kepada manusia suatu musibah (kemarau) selama satu tahun pada masa Nabi
    saw; Maka ketika beliau berkhutbah pada hari Jum’ah berdirilah seorang
    Arab Badwi lalu berkata: ‘Hai Rasulullah, harta telah habis, dan keluarga
    kehausan, maka berdo’alah kepada Allah bagi kita! Kemudian beliau
    mengangkat kedua tangannya, dan kami tidak melihat sekelompok awan di
    langit, demi Allah yang jiwaku berada di tangannya, beliau tidak meletakkan
    kedua tangannya hingga awan menjadi tersebar di atas gunung-gunung,
    beliau pun tidak turun dari mimbarnya hingga kami melihat hujan menetes di
    jenggot beliau, maka hujan pun turun kepada kita sehari penuh, dari pagi

hingga paginya lagi, dan seterusnya hingga pada hari Jum’at berikutnya.’ Dan
berdirilah orang Badwi tadi, atau orang lainnya dan berkata: ‘Hai Rasulullah,
bangunan banyak yang rusak, dan harta banyak yang tenggelam, maka
berdo’alah kepada Allah bagi kita!’ Kemudian beliau mengangkat tangannya
dan bersabda: ‘Ya Allah (turunkanlah rahmat) kepada sekitar kami dan
(janganlah menurunkan musibah) di sekitar kami’. Dan tidaklah beliau
memberikan isyarat dengan tangannya, melainkan hilanglah kesedihan, dan
menjadilah Madinah bagaikan ada suatu lobang dan mengalirlah lembah itu
bagaikan kanal selama satu bulan, dan setiap datang seseorang dari suatu
pelosok, ia bercerita tentang kemakmuran.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy,
kitab Jumu’ah, bab mengangkat kedua tangan, I:109).
٦-ﹶﺓﺮﺩﹸﺳﺎﻣﺔﹶ ﻋﻦ ﺑ ﺮِﻳ ﺪِ ﺑ ﻦِ ﻋﺒ ﺪِ ﺍ ﷲِ ﻋﻦ ﺃﹶﺑِﻲ ﺑﻮ ﺃﺛﹶﻨﺎ ﺃﹶﺑ ﺍﻟﹾﻌﻼﹶ ﺀِ ﺣﺪ ﺑﻦﺪﻤﺤﺛﹶﻨﺎ ﻣﺣﺪ
ﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋ ﺻﻠﺒِﻲﻮﺳﻰ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺩﻋﺎ ﺍﻟﻨﻋﻦ ﺃﹶﺑِﻲ ﻣﹸﻢِﻪ ِ ﺛﺄﹶ ﺑﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﺑِﻤﺎ ﺀ ٍ ﻓﹶﺘﻮﺿِﺭﻓﹶﻊ ﻳﺪﻳ ﻪِ
 ﻳﻮﻡ ﺍﻟﹾﻘِﻴﺎﻣ ﺔ ﺍﺟﻌﻠﹾﻪﻢﱠﻬ ﺍﻏﹾﻔِﺮ ﻟِﻌﺒﻴ ﺪٍ ﺃﹶﺑِﻲ ﻋﺎ ﻣِﺮٍ ﻭﺭﺃﹶﻳﺖ ﺑﻴﺎﺽ ﺇِﺑﻄﹶﻴﻪ ِ ﻓﹶﻘﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﻠﻢﱠﻬِ ﻓﹶﻘﹶﺎﻝﹶ ﺍﻟﻠ
ﺎﺱﻓﹶﻮﻕ ﻛﹶ ﺜِريٍ ﻣِﻦ ﺧﻠﹾ ﻘِﻚ ﻣِﻦ ﺍﻟﻨ)ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺪﻋﻮﺍﺕ، ﺑﺎﺏ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ،
ﺝ:٤، ﺹ:٧٢(
6. “Disampaikan kepada kami suatu hadits oleh Muhammad ibnul-
A’la, disampaikan kepada kami suatu hadits oleh Abu Usamah, dari Barid bin
‘Abdillah, dari Abi Burdah, dari Abi Musa, ia berkata: ‘Nabi saw meminta air
untuk wudlu, lalu mengangkat kedua tangannya, lalu berdo’a: Ya Allah,
ampunilah ‘Ubaid Abi ‘Amir, dan saya melihat putihnya kedua ketiaknya,
lalu berdo’a lagi: Ya Allah, jadikanlah ia pada hari qiyamah di atas
kebanyakan manusia dari makhluk-Mu’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy,
kitab ad-Da’awat, bab Do’a sesudah wudlu, IV:72).
٧- ٍﹶ ﻋﻦ ﺛﹶﺎ ﺑِﺖﺔﻌﺒﹶﻴ ﺮ ٍ ﻋﻦ ﺷﻜ ﺃﹶﺑِﻲ ﺑﺛﹶﻨﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦﻮ ﺑﻜﹾ ﺮ ِ ﺑ ﻦ ِ ﺃﹶﺑِﻲ ﺷﻴﺒﺔﹶ ﺣﺪﺛﹶﻨﺎ ﺃﹶﺑﺣﺪ
ﱠﻠﺳﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﻮﻝﹶ ﺍ ﷲ ِ ﺻﻠ ﺭﺳﹶﻳﺖﺃﻋﻦ ﺃﹶﻧ ﺲ ٍ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺭﻢِ ﻳﺪﻳﻪﹶﻊﺮﻓﻳﻰﻋﺎﺀ ِ ﺣﺘِﻓِﻲ ﺍﻟﺪ
ِﺑﻄﹶﻴ ﻪ ﺇﺮﻯ ﺑﻴﺎﺽﻳ)ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ، ﻛﺘﺎﺏ ﺻﻼﺓ ﺍﻻﺳﺘﺴﻘﺎﺀ، منﺮﺓ:٥/٨٩٥(
7. “Diceritakan kepada kami oleh Abu Bakr bin Abi Syaibah,
diceritakan kepada kami oleh Yahya bin Abi Bukair, dari Syu’bah, dari
Tsabit, dari Anas, ia berkata: ‘Saya melihat Rasulullah saw mengangkat
kedua tangannya ketika berdo’a, sehingga kelihatan putihnya kedua
ketiaknya’.” (Diriwayatkan oleh Muslim, kitab Shalat al-Istisqa’, bab
mengangkat tangan, No. 5/895).


٨- ﺑﻦﹸﻮﺏﺃﹶﺧﺒﺮﻧﺎ ﻳﻌﻘ ﺍﻟﹾﻤ ﻠِﻚ ِ ﻋﻦ ﻋﻄﹶﺎ ﺀ ٍ ﻗﹶﺎﻝﹶﺒﺪﺛﹶﻨﺎ ﻋﻴ ﻢ ٍ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺣﺪﺸٍﺇِﺑﺮﺍﻫِﻴﻢ ﻋﻦ ﻫ
ﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﺑِﻌﺮﻓﹶﺎ ﺕ ﺻﻠﺒِﻲ ﺭﺩِﻳﻒ ﺍﻟﻨﹸﻨﺖ ﺯﻳ ﺪ ٍ ﻛﹸ ﺑﻦﺔﹸﺳﺎﻣﻗﹶﺎﻝﹶ ﺃِﻓﹶﺮﻓﹶﻊ ﻳﺪﻳ ﻪ
ﻬﺎ ﻓﹶﺘﻨ ﻓﹶﺴﻘﹶﻂﹶ ﺧِﻄﹶﺎﻣﻪﹶﺘﻮ ﻓﹶﻤﺎﻟﹶﺖ ﺑِﻪِ ﻧﺎﻗﻳﺪﻋﻩﺪ ﻳ ﺭﺍﻓِﻊﻮﻫﺎﻭﻝﹶ ﺍﻟﹾﺨِﻄﹶﺎﻡ ﺑِﺈِﺣﺪﻯ ﻳﺪﻳﻪ ِ ﻭ
ﺍﹾﻷُﺧﺮﻯ)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻨﺴﺎﺉ، ﻛﺘﺎﺏ ﻣﻨﺎﺳﻚ ﺍحلﺞ، ﺝ:٥:٢٥٤(
8. “Dikhabarkan kepada kami oleh Ya’qub bin Ibrahim, dari Husyaim,
ia berkata: diceritakan kepada kami oleh ‘Abdul Malik, dari ‘Atha, ia berkata:
Berkatalah Usamah bin Zaid: ‘Saya membonceng Nabi saw di Arafah, maka
beliau mengangkat kedua tangannya sambil berdo’a, lalu untanya condong,
dan jatuhlah tali kekangnya, lalu beliau mengambil tali kekang tersebut
dengan salah satu tangannya, dan beliau tetap mengangkat tangan lainnya’.”
(Diriwayatkan oleh an-Nasa’iy, kitab Manasik al-Hajji, bab Raf’ul-yadain,
V:254).
٩-ﹸﻢﻜﱠ ﺭﺑِﻥ ﺇﱠﻢﻠ ﺍ ﷲُ ﻋﻠﹶﻴﻪ ِ ﻭ ﺳﹸ ﺍ ﷲِ ﺻﻠﻰﻮﻝﺳ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺭﻨﻪِ ﻋﻦ ﺳﻠﹾﻤﺎﻥﹶ ﺭ ﺿِﻲ ﺍ ﷲُ ﻋ
 ﻳﺴﺘﺤ ﻲ ﻛﹶ ﺮِﻳﻢﺣﻲِﻩ ِ ﺇِﺫﹶﺍﻣِﻦ ﻋﺒ ﺪ ِﺭﻓﹶﻊ ﻳﺪﻳﻪﻤﺎ ﺻِﻔﹾﺮﺍﻫﺩﺇِﻟﹶﻴﻪ ِ ﺃﹶﻥﹾ ﻳﺮ)ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﺇﻻ
ﺍﻟﻨﺴﺎﺉ، ﻭ ﺻﺤﺤﻪ ﺍحلﺎﻛﻢ(
9. “Dari Salman ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
‘Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Hidup lagi Maha Dermawan, Dia
malu kepada hamba-Nya apabila ia berdo’a dengan mengangkat kedua
tangannya, menolaknya dengan hampa’.” (Ditakhrijkan oleh al-Arba’ah,
kecuali an-Nasa’iy, dan menurut al-Hakim hadits tersebut adalah shahih; as-
Shan’aniy, 1961, IV:219).
١٠-ﱠﻰ ﺍ ﷲُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﺇِﺫﹶﺍﹸ ﺍ ﷲِ ﺻﻠﻮﻝ ﻗﹶﺎﻝﹶ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺭﺳﻨﻪ ﺭﺿِﻲ ﺍ ﷲُ ﻋﺮﻤﻭ ﻋﻦ ﻋﻣﺪِ
ﻋﺎ ﺀﻳﺪﻳﻪ ِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪﻪﺟﻬﻰ ﻳﻤﺴﺢ ﺑِﻬِﻤﺎ ﻭﻤﺎ ﺣﺘﻫﺩﻟﹶﻢ ﻳﺮ)ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻯ ﻭ ﻟﻪ ﺷﻮﺍﻫﺪ
ﻣﻨﻬﺎﻋﻨﺪ ﺃىب ﺩﺍﻭﺩ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭ ﻏريﻩ ﻭ جمﻤﻮﻋﻬﺎ ﻳﻘﻀﻲ ﺑﺄﻧﻪ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ(
10. “Dari ‘Umar ra, ia berkata: ‘Apabila Rasulullah saw menjulurkan
kedua tangannya ketika berdo’a, beliau tidak menariknya, hingga mengusap
wajahnya dengan kedua tangannya’.” (Ditakhrijkan oleh at-Tirmuziy, hadits
tersebut mempunyai beberapa syahid (pendukung) antara lain ialah: Abu
Dawud dari Ibni ‘Abbas dan lain-lainnya, dan menurutnya hadits tersebut
adalah hasan, As-Shan’aniy, 1961).


١١-ِ ﺒ ﺩﻋﺎ ﺍﻟﻨﻮﺳﻰ ﺍﹾ ﻷَﺷﻌ ﺮِﻱﻮ ﻣﻗﹶﺎﻝﹶ ﺃﹶﺑﹸﻢﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﺛ ﺻﻠﻲِﺭﻓﹶﻊ ﻳﺪﻳ ﻪ
ﺮﻤ ﻋﻭﺭﺃﹶﻳﺖ ﺑﻴﺎﺽ ﺇِﺑﻄﹶﻴﻪ ِ ﻭﻗﹶﺎﻝﹶ ﺍﺑﻦِﱠﻰ ﺍ ﷲُ ﻋﻠﹶﻴﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻳﺪﻳﻪ ﺻﻠﺒِﻲﺭﻓﹶﻊ ﺍﻟﻨ:ﻲ ﺇِﻧﻢﱠﻬﺍﻟﻠ
 ﻗﹶﺎﻝﹶ ﺃﹶﺑﻮ ﻋﺒ ﺪِ ﺍ ﷲِ ﻭﻗﹶﺎ ﺻﻨﻊ ﺧﺎﻟِﺪﹸ ﺇِﻟﹶﻴﻚ ﻣِﻤﺃﹶﺑﺮٍ ﺃ ﺟﻌﻔﹶ ﺮ ﺑﻦﺪﻤﺤﺛﹶﻨِﻲ ﻣ ﺣﺪِﻲﻳ ﺴُﻭﺎﻝﹶ ﺍﹾ ﻷ
ﱠﻰ ﺍ ﷲُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﺻﻠﺒِﻲﻳ ﻚٍ ﺳﻤِﻌﺎ ﺃﹶﻧﺴﺎ ﻋ ﻦِ ﺍﻟﻨﺮﻋﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺑ ﻦِ ﺳﻌِﻴ ﺪٍ ﻭ ﺷِﺭﻓﹶﻊ ﻳﺪﻳ ﻪ ِ
 ﺑﻴﺎﺽ ﺇِﺑﻄﹶﻴ ﻪﹶﻳﺖﺃﻰ ﺭﺣﺘ)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺪﻋﻮﺍﺕ، ﺝ:٤، ﺹ:٦٨(
11. “Berkatalah Abu Musa al-Asy’ariy: ‘Berdo’alah Nabi saw dengan
mengangkat kedua tangannya, dan saya melihat putihnya kedua ketiaknya’.
Dan Ibnu ‘Umar berkata: ‘Nabi saw mengangkat kedua tangannya (dan
berdo’a): Ya Allah, sungguh saya mohon kepada-Mu terbebas dari apa yang
dilakukan oleh Khalid. Berkatalah Abu ‘Abdillah; ‘berkatalah al-Uwaisiy:
diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Ja’far, dari Yahya bin Sa’id dan
Syuraik, keduanya mendengar Anas, dari Nabi saw (bahwa beliau)
mengangkat kedua tangannya (ketika berdo’a) hingga aku melihat putihnya
kedua ketiaknya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, kitab ad-Da’awat, IV:68).
II Hadits yang menyatakan tidak mengangkat tangan.
١- ﺍﹾ ﻷَﻋﻠﹶﺒﺪﻋ ﻭِﻱ ﺃﹶﺑِﻲ ﻋ ﺪﺛﹶﻨﺎ ﺍﺑﻦﻰ ﺣﺪﺜﹶﻨ ﺍﻟﹾﻤ ﺑﻦﺪﻤﺤﺛﹶﻨﺎ ﻣﺣﺪﻰ ﻋﻦ ﺳﻌِﻴ ﺪ ٍ ﻋﻦ
ﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴ ﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻛﹶﺎﻥﹶ ﺍ ﷲ ِ ﺻﻠﱠ ﻧ ﺒِﻲﹶﻥﻗﹶﺘﺎﺩﺓﹶ ﻋﻦ ﺃﹶﻧ ﺲ ٍ ﺃِ ﻳﺪﻳﻪﹶﻊﺮﻓﻻﹶ ﻳِﻓِﻲ ﺷﻲﺀ ٍ ﻣِﻦ
 ﺇِﺑﻄﹶﻴ ﻪﺮﻯ ﺑﻴﺎﺽﻰ ﻳﱠ ﻓِﻲ ﺍﹾﻻِﺳﺘِﺴﻘﹶﺎﺀ ِ ﺣﺘﻋﺎ ﺋِﻪ ِ ﺇِﻻﺩ)ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ، ﻛﺘﺎﺏ ﺻﻼﺓ ﺍﻻﺳﺘﺴﻘﺎﺀ،
منﺮﺓ:٥/٨٩٥(

  1. “Diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin al-Musanna,
    diceritakan kepada kami oleh Ibnu Abi ‘Adiy dan ‘Abdul A’la dari Sa’id, dari
    Qatadah, dari Anas, bahwa Nabi saw tidak mengangkat kedua tangannya
    sedikitpun ketia berdo’a, kecuali dalam istisqa’ (mohon air hujan) hingga
    terlihat putihnya kedua ketiaknya.” (Diriwayatkan oleh Muslim, kitab Shalat
    al-Istisqa’, bab Raf’ul-yadain, No. 5/895.
    ٢-ﱠ ﺃﹶﻧﺲﹶﻥﻭﺑﺔﹶ ﻋﻦ ﻗﹶﺘﺎﺩﺓﹶ ﺃ ﺳﻌِﻴ ﺪٍ ﻋ ﻦِ ﺍﺑ ﻦِ ﺃﹶﺑِﻲ ﻋﺮﺛﹶﻨﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦﻰ ﺣﺪﺜﹶﻨ ﺍﻟﹾﻤﺛﹶﻨﺎ ﺍﺑﻦﺣﺪ
    ﻩﺤﻮﱠﻰ ﺍ ﷲ ُ ﻋﻠﹶﻴﻪ ِ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻧ ﺻﻠﺒِﻲﻢ ﻋ ﻦ ِ ﺍﻟﻨﹶﻬﺛﺪﺑﻦ ﻣﺎ ﻟِﻚ ٍ ﺣ)ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ، ﻛﺘﺎﺏ ﺻﻼﺓ
    ﺍﻻﺳﺘﺴﻘﺎﺀ، منﺮﺓ:٦/٨٩٥(
  2. “Diceritakan kepada kami oleh Ibnu al-Musanna, diceritakan
    kepada kami oleh Yahya bin Sa’id, dari Ibni Abi ‘Arubah, dari Qatadah,

bahwa Anas bin Malik menyampaikan kepada mereka dari Nabi saw hadits
yang sama.” (Diriwayatkan oleh Muslim, kitab Shalat al-Istisqa’, bab Raf’ul-
yadain, No. 6/895).
Penjelasan :
Demikianlah hadits-hadits tentang mengangkat tangan ketika berdo’a,
yang sempat kami kutip. Sebenarnya masih banyak hadits-hadits tentang
mengangkat tangan ketika berdo’a, tetapi hadits-hadits yang kami kutip tersebut
sudah cukup untuk dijadikan sebagai dalil untuk memutuskan masalah yang
saudara tanyakan itu.
Perlu diketahui bahwa selama ini, dalam memutuskan hukum
Muhammadiyah selalu berpegang pada pokok-pokok manhaj sebagai berikut:

  1. Dalam beristidlal, selalu menggunakan sumber pokok, yaitu al-Qur’an dan
    as-Sunnah as-Shahihah (maqbulah=diterima). Ijtihad dapat dilakukan apabila
    masalah yang dibahas tidak berkaitan dengan ta’abbudi.
  2. Setiap keputusan harus dilakukan dengan cara musyawarah (ijtihad jama’iy).
  3. Muhammadiyah tidak mengikuti salah satu mazhab dari mazhab-mazhab
    yang ada, tetapi pendapat para imam mazhab dapat dijadikan sebagai
    pertimbangan, selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
  4. Jika dalil-dalil yang dipergunakan tampak adanya ta’arud (pertentangan),
    maka harus dilakukan al-jam’u wa at-taufiq atau dilakukan tarjih.
    Demikanlah sebagian manhaj yang harus diketahui dan dipergunakan
    dalam mengambil keputusan.
    Hadits-hadits yang kami kutip, sebagian besar menyatakan bahwa Nabi
    saw mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a, dan sebagian ulama, antara lain:
    al-Qasthalaniy dalam syarah hadits, dan as-Shan’aniy dalam Subulus-Salam,
    menilainya sebagai hadits shahih, kecuali hadits No. 11, mereka tidak menilainya,
    apakah shahih ataukah da’if, tetapi Ishaq al-Farayiniy, menilainya secara umum,
    bahwa semua hadits yang termaktub dalam shahih al-Bukhariy dan Muslim telah
    disepakati oleh sebagian besar ahli hadits tentang keshahihannya, baik sanad
    maupun matannya. (al-Qasimiy, 1961, Qawa’id at-Tahdis: 85). Maka hadits No.
    11, yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ariy adalah shahih, sebab termuat
    dalam Shahih al-Bukhariy. Sekalipun demikian, masih terbuka untuk menelitinya
    kembali, sehingga menjadi jelas kedudukannya.
    Jika dibandingkan dengan hadits berikutnya, yaitu hadits No. II.1. dan
    hadits No. II.2., maka tampak adanya ta’arud (pertentangan). Hadits No. 1 sampai
    dengan No. 11 menyatakan bahwa Nabi saw mengangkat tangannya ketika
    berdo’a, sedang hadits No. II.1. dan II.2. menyatakan bahwa Nabi saw tidak
    pernah mengangkat kedua tangannya, kecuali hanya pada waktu istisqa saja.
    Karena pada dalil-dalil tersebut tampak adanya ta’arud, maka untuk
    mengambil keputusan perlu menggunakan metode al-jam’u wa at-taufiq
    (mengumpulkan dan mengkompromikan) antara kedua dalil yang tampak
    bertentangan.
    Al-Qasthalaniy ketika mensyarah hadits al-Bukhariy tentang mengangkat
    kedua tangan ketika berdo’a, mengatakan bahwa mengangkat kedua tangan adalah

sunnah, berdasarkan hadits-hadits tersebut. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh
Anas, yang menyatakan bahwa Nabi saw tidak pernah mengangkat kedua
tangannya sedikit pun ketika berdo’a, kecuali pada waktu istisqa’ (mohon hujan),
dia menjelaskan bahwa yang ditiadakan ialah sifat khusus, yaitu al-mubalaghah fi
ar-raf’i (melebihkan dalam mengangkat kedua tangan), bukan mengangkat tangan
pada umumnya, artinya; bahwa Nabi saw ketika berdo’a juga mengangkat tangan,
tetapi tidak setinggi ketika berdo’a dalam istisqa’. (al-Qasthalaniy, Syarh al-
Bukhariy, IV:68).
As-Shan’aniy, dalam kitabnya Subulus-Salam menjelaskan; bahwa hadits-
hadits tentang mengangkat tangan, menunjukkan bahwa mengangkat kedua
tangan ketika berdo’a adalah mustahabb, dan hadits-hadits yang memerintahkan
agar mengangkat kedua tangan ketika berdo’a jumlahnya cukup banyak. Adapun
hadits yang diriwayatkan oleh Anas, yang menyatakan bahwa Nabi saw tidak
pernah mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a, kecuali hanya ketika dalam
istisqa’, dia menjelaskan bahwa yang dimaksudkannya ialah al-mubalaghah fi ar-
raf’i (melebihkan dalam mengangkat kedua tangan), yaitu mengangkat kedua
tangannya dengan amat tinggi, dan yang demikian itu tidaklah terjadi kecuali
ketika berdo’a dalam istisqa’. Dan hadits-hadits tentang mengangkat kedua tangan
telah dikumpulkan dalam satu juz oleh al-Munziriy. (As-Shan’aniy, 1961,
IV:219).
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa dua kelompok hadits tersebut
tidaklah bertentangan (ta’arud), sebab kedua kelompok hadits tersebut masih
dapat ditaufiqkan (dikompromikan).
Kesimpulan :
Mengangkat kedua tangan ketika berdo’a adalah sunnah atau mustahab,
dan tidak perlu mengangkat tinggi-tinggi, kecuali pada waktu berdo’a istisqa’.


Sumber

Kembali ke Fatwa 2003