Putusan

Tanya Jawab Agama 1 Masalah Doa Iftitah Basmalah dan Membaca Surat

Folder: TJA 1#auto-import

MASALAH DOA IFTITAH, BASMALAH DAN
MEMBACA SURAT

  1. Bacaan Doa Iftitah
    Tanya: Dalam Kitab Himpunan Putusan Tarjih cetakan ketiga, doa
    iftitah sebelum membaca Surat Fatihah pada rakaat Pertama, antara lain
    berbunyai: ALLAHUMMA NAQQINIY MINAL KHATHAAYA, dan akhir-
    nya berbunyi: ALLAHUMMAGHSIL KHATHAAYAAYA MILMAAI
    WATSTSALJI WAL BARAD. Pada Kitab Bulughul Maram, tertulis:
    ALLAHUMMA NAQQINIY MINAL KHATHAYAAYA dan
    ALLAHUMMAGHSILNIY MINAL KHATHAAYAAYA BIL MAAI
    WATSTSALJI WAL BARAD. Pada jawaban SM No. 13/66 (Juli I 1986)
    tertulis: ALLAHUMMA NAQQINIY MINAL KHATHAAYAAYA dan
    ALLAHUMMAGHSILNIY MINAL KHATHAAYAAYA BITSTSALJI WAL
    MAAI WAL BARAD.
    Mohon penjelasan bagaimana sebenarnya perbedaan bacaan itu? (Muh.
    Ayat, Aji Barang Kl. Rw. VI Rt. 01 Purwokerto, Banyumas).
    Jawab: Untuk jelasnya perlu ditulis kembali ketiga bacaan iftitah itu
    beserta perawi-perawinya.
    Dalam HPT, ditulis:
    Hadis tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan Abu
    Hurairah, dan mengambil lafaz yang diriwayatkan oleh Bukhari.
    Dalam Kitab Bulughul Maram dan juga pada kitab-kitab lainnya, ditulis:

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahkan
segolongan ahli Hadis, termasuk Abu Dawud dan Al Hakim kecuali At
Tirmidzy dan Abu Hurairah juga, sedang lafaznya seperti lafaz riwayat Abu
Dawud dan Al Hakim dan gabungan antara lafaz yang diriwayatkan oleh
Muslim seperti tersebut pada SM No. 13/66 (Juli 1 1986), dengan lafaz Bukhari
seperti yang tersebut pada HPT.
Sedang yang tersebut pada SM No. 13/66 (Juli 1 1986), ditulis:
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim dengan lafaznya, dan Abu
Hurairah.
Ketiga Hadis, tersebut sahih dan dapat diterima semuanya untuk dasar
pengamalan, artinya kalau kita membaca iftitah dalam shalat kita dengan salah
satu dan lafaz tersebut, tidaklah keliru, sesuai pula dengan Sunnah Nabi. Hanya
saja untuk keseragaman agar mudah dituntunkan maka HPT, mengambil salah
satu dari lafaz-lafaz tersebut, ialah lafaz Al Bukhari, bahkan sebenarnya boleh
dan benar kalau kita mengambil bacaan yang lain yang disebutkan pula dalam
HPT dengan mengambil riwayat Muslim, yakni bacaan, WAJJAHTU WAJHIYA
LILLADZIY FATHARASSAMAAWATIWALARDHA dan seterusnya.
2. Bacaan Basmalah dan Fatihah
Tanya: Apakah lafaz BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM
ter masuk dalam surat Al Fatihah atau tidak? Mohon penjelasan.
(HUMARMASASMITA, lgn. No. 6347, Jl. Lengkong 33 A Tasikmalaya).
Jawab: Di dalam Al-Quran ada 114 surat dimulai dengan lafaz
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM kecuali surat At Taubah atau surat
Baraah, surat yang ke-9. Surat At Taubah tidak didahului dengan lafaz
BASMALAH tetapi ada satu surat yang bacaan BASMALLAH-nya dua kali,
yakni surat An Naml, surat yang ke-27, sehingga jumlah bacaan BASMALAH
dalam Al-Quran tetap 114. Para sahabat telah sepakat bahwa bacaan
BASMALAH itu ditulis pada awal tiap surat kecuali surat Baraah. Mereka
sepakat pula pada bacaan AMIEN bukan sebagai ayat Al-Quran. Karenanya
tidak ditulis pada akhir surat Al Fatihah. Mengenai bacaan BASMALAH itu

apakah salah satu dari surat Al Fatihah ataukah ayat pembatas satu surat dari
surat yang lain, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Fuqaha Madinah, Bashrah dan Syam berpendapat bahwa bacaan
BASMALAH adalah sebagai pembatas dari Satu surat dengan surat yang lain,
sehingga bacaan itu tidak masuk pada surat Al Fatihah. Oleh karenanya Imam
Malik tidak membaca BASMALAH itu dalam membaca surat Al Fatihah
dalam shalat. Menurut ahli qiraah Kufah dan Makkah, demikian pula menurut
Imam Syafi’iy, BASMALAH satu ayat dari surat Al Fatihah, sehingga dibaca
jahr dikala membaca jahr surat Al Fatihah dalam shalat.
Kesimpulannya, bacaan BASMALAH menurut ijma sahabat ditulis
dalam Al-Quran sebagai permulaan setiap surat kecuali surat At Taubah.
Tentang apakah BASMALAH itu satu ayat dari surat Al Fatihah yang disebut
ASSAB’UL MATSANI, maksudnya tujuh ayat yang diulang-ulang, terdapat
dua pendapat. Yakni pendapat fuqaha Madinah, Bashrah dan Syam,
BASMALAH itu kepala setiap surat termasuk surat Al Fatihah tetapi bukan
termasuk salah satu ayat Al Fatihah. Sedangkan ahli qiraah Kufah dan Makkah
memandang bahwa bacaan BASMALAH termasuk salah satu dari ayat dalam
surat AL Fatihah. Bila membacanya dalam shalat, Imam Syafi’i membaca
keras sekalipun saat bacaan keras atau jahr.
3. Bacaan Surat Tidak Utuh
Tanya: Bacaan surat dalam shalat tidak utuh, seperti membaca alif
lam miem tetapi tidak selesai satu surat. Bolehkah kita membaca surat yang
hanya sepotong itu dalam shalat? (A. Muis, Mahmud, Buer Alas, Sumbawa NTB).
Jawab: Boleh, karena Nabi juga pernah dalam shalat fajar membaca
surat sesudah Fatihah, satu ayat saja.
Hadis riwayat Muslim, Ibnu Huzaimah:
Artinya: … dan kadang-kadang (Rasulullah) membaca sesudah fatihah, satu
ayat QUULUU AAMANNA BILLAAHIWA MAA UNZILA ILAINAA
sampai akhir ayat (Al Baqarah ayat 136) dan pada rakaat yang lain (membaca)
QUL YAA AHLAL KITAABI TA’AALAU ILAA KALIMATIN
SAWAAIN BAINANAA WA BAINAKUM sampai akhirnya (Ali Imran 64).

  1. Bacaan Beberapa Surat
    Tanya: a) Surat-surat yang dihafal hanya pendek-pendek, sedangkan kita
    ingin membaca yang panjang. Yang kami tanyakan bolehkah kita membaca
    beberapa surat dalam satu rakaat?
    b) Surat yang dihafal hanya satu-satunya surat Al-Ikhlas, tetapi ada lagi
    surat yang panjang yaitu surat Alif lam mim, tetapi tidak selesai (belum satu
    surat), bolehkah kita membaca hanya yang sepotong itu?
    c) Dalam membaca surat, di tengah-tengah kita lupa, bolehkah kita
    cukupkan itu saja atau haruskah kita membaca yang lain yang sudah hafal?
    (Ny. H. Tukijah Muslim, Jl. Ky. Mukhsin Gg. Utara KA. 10 Lumajang).
    Jawab: Dalam membaca surat sesudah Al-Fatihah, Nabi membaca
    berbeda-beda. Misalnya dalam shalat fajar, beliau membaca surat-surat yang
    agak panjang yang disebut “thiwalul mufassal” (tujuh surat pada juz-juz akhir
    Al-Quran yang dimulai dari surat Qaaf), demikian menurut riwayat An Nasaiy
    dan Ahmad. Tetapi adakalanya beliau membaca surat yang agak pendek yang
    disebut “qisharil mufassal” seperti surat “idzassyamsu kuwwirat”, demikian
    menurut riwayat Muslim dan Abu Dawud.
    Dan beliau pernah satu kali membaca surat “idza-zul-zilatil ardhu…”
    dalam kedua rakaatnya, sehingga perawi shahabi memberi komentar apakah
    Nabi lupa atau disengaja membaca demikian. Inilah riwayat Abu Dawud dalam
    Al Baihaqy.
    Kadang-kadang pula membaca ayat 136 surat Al Baqarah sampai akhir
    dan pada kejadian yang lain membaca ayat 64 surat Ali Imran sampai akhir,
    demikian menurut riwayat Muslim, Ibnu Huzaimah dan Al Hakim.
    Kadang-kadang Nabi membaca dalam satu rakaat lebih dan dua surat,
    seperti riwayat Al-Tirmidzy dan Abdul Abbas Asham. Demikian pula Al Hakim,
    Nabi dalam shalat witir pada rakaat ketiga membaca surat Al-Ikhlas dan kadang-
    kadang ditambah surat “Al Falaq” dan “An-Naas”.
    Menurut riwayat Bukhari dan Ahmad ada seseorang yang mengatakan
    kepada Nabi tentang tetangganya yang pada waktu shalat lail tidak membaca
    surat kecuali surat Al-Ikhlash, diulang-ulang tidak membaca surat yang lain.
    Orang ini menyampaikannya kepada Nabi seakan-akan meremehkan, maka
    Nabi pun bersabda: Sesungguhnya surat itu menyamai sepertiga Al-Quran.
    Bahkan menurut riwayat An Nasaiy, Ibnu Khuzaimah dan Ahmad dan
    Al Hakim, Nabi pernah shalat malam dengan membaca ayat: “In tu’azzib
    hum fa innahum ‘ibaduka” (surat Al-Maaidah ayat 118) diulang-ulang sampai
    pagi.
    Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sesudah membaca
    surat Fatihah, Nabi membaca salah satu surat Al-Qur’an kadang-kadang surat

yang panjang dan kadang-kadang surat pendek. Pernah membaca dalam satu
rakaat lebih dari satu surat, dalam shalat witir rakaat terakhir. Bacaan sesudah
Fatihah, tidak mesti satu surat utuh. Pernah Nabi membaca satu surat untuk
dua rakaat, atau membaca bacaan beberapa ayat saja dalam satu rakaat.
Mengenai pertanyaan terakhir, bagaimana kalau dalam membaca surat
kebetulan lupa apakah harus ditambah dengan bacaan surat lain atau ayat
lain, maka perlu difahami bahwa pada pokoknya bacaan surat, lain dengan
kedudukan bacaan surat Al Fatihah. Bacaan surat Al Fatihah sesuatu yang
mesti ada dalam setiap rakaat, sedang bacaan surat tidak demikian.
Adapun bacaan surat atau ayat menurut riwayat Ad-Darimy; Ahmad
dan Al Tirmidzy hendaknya paling sedikit tiga ayat (sekiranya mau membaca),
sehingga kalau setelah tiga ayat ada kelupaan ayat selanjutnya, maka tidak
perlu membaca ayat atau surat lain. Tetapi kalau kurang dan tiga ayat kemudian
lupa (supaya tidak bertentangan dengan riwayat Darimy tadi) ditambah dengan
ayat atau surat lain.
Wallahu a’lam bis sawab.

Sumber

Kembali ke TJA 1