Putusan

Keputusan Tarjih Ke 27 Tuntunan Seni Budaya Islam Bab VIII Strategi Kebudayaan Muhammadiyah

Folder: HPT 3#auto-import

173Himpunan Putusan Tarjih 3
BAB VIII
STRATEGI KEBUDAYAAN MUHAMMADIYAH
A. Potensi Manusia untuk Mengembangkan Budaya]

  1. Ruhani, yaitu yang ditiupkan langsung dari ruh Allah. Dengan ruhani ini manusia
    dapat langsung mengenali Allah
  2. Hati nurani (qalb), yang selalu mendapat sinyal langsung dari Allah untuk selalu
    berbuat baik kepada sesama. Dengan nurani (qalb) ini dapat dilahirkan akhlak
    mulia (al-akhlāq al-karīmah).
  3. Akal atau rasio, sesuatu yang sangat penting dalam upaya manusia mengelola bumi
    sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi
  4. Emosi, imajinasi atau perasaan, yang mampu mengembangkan rasa indah dalam
    bentuk seni, sebagaimana Allah juga menciptakan alam seisinya ini adalah sangat
    indah. Dengan modal emosi, imajinasi dan perasaan inilah manusia mampu
    menikmati keindahan ciptaan Allah.
    Di samping empat potensi pokok tersebut, al-Quran juga menyebut adanya
    nafsu pada diri manusia, yang mampu menimbulkan keinginan-keinginan. Nafsu ini
    berada pada tataran terendah, karena berpotensi untuk mengajak kepada keburukan,
    yang disebut nafsu amarah sebagaimana disebutkan dalam QS Yūsuf (12) ayat 53,
    . ٌ َّ مَا رَحِم َ رَب ِّ إِن َّ رَب ِّ غَفُور ٌ رَحِيم الََمَّارَة ٌ بِالسُّوء ِ إِأل َ وَمَا أُبَرِّئ ُ نَفْس ِ إِن َّ انلَّفْس
    Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena sesungguhnya nafsu itu
    selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
    Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang [QS Yūsuf (12): 53].
    Dalam al-Quran disebutkan bahwa nafsu itu ada juga yang merupakan an-
    nafs al-muṭmainnah, yang mengajak kepada kebaikan. QS al-Fajr (89) ayat 27-30
    menyebutkan,ِ
    يَا أَيَّتُهَا انلَّفْس ُ الْمُطْمَئِنَّة ُ 27 ارْجِع ِ إِل َ رَبِّك ِ رَاضِيَة ً مَرْضِيَّة ً 28 فَادْخُل ِ ف
    عِبَادِي 29 وَادْخُل ِ جَنَّت ِ 30
    Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-
    Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-
    Ku [QS al-Fajr (89): 27-30].
    Diakui dan disadari oleh manusia bahwa potensi nafsu inilah yang mendorong
    manusia maju dalam segala hal, yang mendorong empat potensi pokok tersebut di atas.
    Fitrah pertama yang dibekalkan Sang Pencipta kepada manusia adalah fitrah
    beragama, yaitu kepercayaan dan aspirasi spiritual yang berwujud rasa rindu kepada

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah174
Tuhan Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa, sebagaimana disebutkan dalam QS
al-A‘rāf (7) ayat 171, ُ
ِإَوذ ْ أَخَذ َ رَبُّك َ مِن ْ بَن ِ آدَم َ مِن ْ ظُهُورِهِم ْ ذُرِّيَّتَهُم ْ وَأَشْهَدَهُم ْ ع ََ أَنْفُسِهِم ْ أَلَسْت
. َ يِ بِرَبِّكُم ْ قَالُوا بَل َ شَهِدْنَا أَن ْ تَقُولُوا يَوْم َ الْقِيَامَة ِ إِنَّا كُنَّا عَن ْ هَذَا غَفِل
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),
”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, ”Betul (Engkau Tuban kami), kami
menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan, ”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan) [QS al-A‘rāf (7): 171].
Juga dalam QS ar-Rūm (30) ayat 30, Allah menegaskan bahwa Agama Islam
telah difitrahkan kepada manusia, ِ
َِلْقخل َ َ تَبْدِيْل ال ِّيْن ِ حَنِيْفًا فِطْرَت َ الل َِّ الَّت ِ فَطَر َ انلَّاس َ عَلَيْهَالفَأَقِم ْ وَجْهَك َ لِ
. َ َ يَعْلَمُوْن ال ِ ِّيْن ُ الْقَيِّم ُ وَلَكِن َّ أَكْث ََ انلَّاسلالل َِّ ذَلِك َ ا
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada
fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
[QS ar-Rūm (30) ayat 30].
Di samping fitrah kepercayaan dan agama, manusia telah pula diberi amanat
berupa akal fikiran, yang hanya diberikan kepada manusia, sebagaimana firman
Allah dalam QS al-Aḥzāb (33) ayat 72, َ
َْرْض ِ وَالِْبَال ِ فَأَبَي َْ أَن ْ يَْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنألَْمَانَة َ ع ََ السَّمَاوَات ِ وَاألإِنَّا عَرَضْنَا ا
.ًالِْْنْسَان ُ إِنَّه ُ كَن َ ظَلُومًا جَهُوإلمِنْهَا وَحََلَهَا ا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-
gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu
amat zalim dan amat bodoh [QS al-Aḥzāb (33) ayat 72].
Dengan bekal kepercayaan atau agama (yang dibawa oleh ruh manusia) dan akal/
rasio, di samping adanya hati nurani, imajinasi, kemauan dan nafsu yang dimiliki
manusia, maka manusia dapat menghasilkan kebudayaan, termasuk ilmu pengetahuan
dan teknologi, serta kesenian yang menjadikan manusia hidup mudah dan indah.
Pada saat Muhammadiyah lahir tahun 1912, awal abad ke-20, kebudayaan
manusia telah berkembang dari generasi ke generasi. Menghadapi perkembangan
kebudayaan yang seperti itu, yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan tuntunan

175Himpunan Putusan Tarjih 3
al-Quran, maka Muhammadiyah yang menyatakan dirinya sebagai gerakan dakwah
amar makruf nahi mungkar, mengambil langkah langsung masuk dan menyatu dalam
wilayah pergumulan kehidupan dan kebudayaan konkret yang dihadapi umat Islam.
B. Empat Ciri Strategi Kebudayaan Muhammadiyah

  1. Setiap warga Muhammadiyah baik dalam menciptakan maupun menikmati
    seni budaya, selain dapat menimbulkan perasaan halus dan keindahan, juga
    menjadikan seni dan budaya sebagai sarana, sebagai media atau sarana dakwah
    untuk membangun kehidupan yang berkeadaban.
  2. Menghidupkan sastra Islam sebagai bagian dari strategi membangun peradaban
    dan kebudayaan manusia.
    Berdasarkan pandangan strategi kebudayaan Muhammadiyah terhadap seni
    dan kebudayaan tersebut, maka dalam Halaqah Tarjih di Solo, 2-4 Nopember 2001,
    dirumuskan strategi seni dan kebudayaan Muhammadiyah sebagai berikut:
  3. Strategi kebudayaan koeksistensi, yakni lebih mendalami wawasan seni tradisi
    dengan pendekatan bayani, burhani dan irfani serta menghargai seni-seni
    tradisi yang berkembang di masyarakat, sepanjang sejalan dengan rambu-rambu
    (persyaratan) di atas, dan
  4. Strategi kedudayaan proeksistensi, yaitu empati terhadap perkembangan
    seni tradisi serta membuka ruang publik untuk mengembangkan seni tradisi
    Islami seperti penyelenggaraan festival-festival budaya, halaqah budaya dan
    sebagainya. •

Sumber

Kembali ke HPT 3